Detik terakhir
iya , detik yang begitu sulit dalam mengusik jenuh\
mengusik tawa
dan mengusik keberadaan bunyi getir
Detik ini
aku mencoba berhenti sejenak
dalam bidang yang haus akan ke pura-puraan
mencari titik asa di sudut gemitir
mencapai puncak palsu terdiam
yang dinamakan titik jenuh
Detik ini
kuharap tidak slalu berjalan
detik ini
kuharap slalu berpegang teguh pada tangkai kekal
agar kami teridoi oleh syu'ur saadah
terdiam di secarik kertas hangat
menitih dalam keegoisan gembita
yang tentu tiada jarang dimusnahkan
oleh sibak-sibak kecil karna kutahu akan berundu
akan berundak dari
nanti ke nanti , masa ke masa , titik demi titik
lalui dan lakui
keserasian dan kerundingan kekurangan
apa salah di cadas busuk ini ?
kuhanya
kuhanya ingin terbaik terpilih oleh kita
agar suatu nanti menyesalpun tiada
karna suatu saat datangnya gemuruh nanti
itu yang tuhan lukis untuk kita
itu yank tuhan basuh untuk kita
dan
itu yang tuhan gariskan takdir pada tubuh kita
Jumat, 07 Februari 2014
Aku tersipu , tunduk pada langkah malu
mencari tahu akan rapuhnya gemulai tubuhku
mengapa air itu selalu berombak?
mengapa bunga itu mudah berguguran ?
akankah ;langit dan samudra menjawabnya ?
ya tuhan...
aku ini atom tak lebih dari ion
aku ini lempengan cadas yang telah teracik
dulu ku gembala
mengobrak abrik dan selalu tegak
' seperti mentari yang tiada merunduk
seperti belaian pelangi jingga dikala senja
dulu disaat ku tegar
tuhan tiada resah membelaiku
tuhan tiada kaku mendekapku
dan kini itu tiada lagi dan itu benalu
benalu yang melilit tulang-tulangku
benalu yang mencabik rongga-ronggaku
kini kutersibak dalam gulita hitam
ku terbelenggu dalam rakitan besi tahanan
namun kutahan , kutekan dan kuleburkan
karna tawaku ini indah , dan kuyakin
banyak manusia lereng sana yang menantiku:)
mencari tahu akan rapuhnya gemulai tubuhku
mengapa air itu selalu berombak?
mengapa bunga itu mudah berguguran ?
akankah ;langit dan samudra menjawabnya ?
ya tuhan...
aku ini atom tak lebih dari ion
aku ini lempengan cadas yang telah teracik
dulu ku gembala
mengobrak abrik dan selalu tegak
' seperti mentari yang tiada merunduk
seperti belaian pelangi jingga dikala senja
dulu disaat ku tegar
tuhan tiada resah membelaiku
tuhan tiada kaku mendekapku
dan kini itu tiada lagi dan itu benalu
benalu yang melilit tulang-tulangku
benalu yang mencabik rongga-ronggaku
kini kutersibak dalam gulita hitam
ku terbelenggu dalam rakitan besi tahanan
namun kutahan , kutekan dan kuleburkan
karna tawaku ini indah , dan kuyakin
banyak manusia lereng sana yang menantiku:)
Langganan:
Postingan (Atom)